Sabtu, 27 Maret 2010

SISTEM KLASIFIKASI BIOFARMASETIK

SISTEM KLASIFIKASI BIOFARMASETIK

Sistem klasifikasi biofarmasetik diperkenalkan melalui sebuah metode untuk mengidentifikasi situasi yang mungkin mengikuti uji disolusi in vitro yang digunakan untuk memastikan bioekivalensi dalam ketidakhadiran studi bioekivalensi klinik secara nyata. Pada dasarnya pendekatan secara teori menyatakan, kelarutan dan permeabilitas intestinal diidentifikasi sebagai karakteristik pengobatan utama yang mengontrol absorpsi. Teori ini mengklasifikasikan obat dalam empat kelompok secara garis besarnya sebagai berikut :
• Kasus 1 : Kelarutan tinggi --- permeabilitas tinggi
• Kasus 2 : Kelarutan rendah --- permeabilitas tinggi
• Kasus 3 : Kelarutan tinggi --- permeabilitas rendah
• Kasus 4 : Kelarutan rendah --- permeabilitas rendah
Tidak ada teori dasar untuk sistem klasifikasi biofarmasetik, pendekatan teori untuk model absorpsi dan disolusi dihadirkan dalam bab ini mempunyai batasan-batasan yang tidak bisa dipisahkan secara alami.yang menempatkan beberapa obat tertentu dalam salah satu kelompok Sistem Klasifikasi Biofarmasetik. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan keduanya mempunyai daerah kepekaan yang lebih sedikit dan lebih besar untuk disolusi yang mempertimbangkan apakah disolusi in vitro dapat digunakan sebagai perwakilan untuk uji bioekivalensi. Seperti yang ditunjukkan dalam pertimbangan teoritis untuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik, daerah in vivo dimana disolusi dan absorpsi berlangsung mempunyai tingkat variabilitas yang tinggi. Di luar kemungkinan, batasan-batasan untuk kelompok Sistem Klasifikasi Biofarmasetik yang mungkin mempunyai kesalahan pada sisi konservasi berkaitan dengan ketidakpastian yang menyangkut perkiraan kelarutan dan permeabilitas dalam jalur Gastro Intestinal.
Pertimbangan teori untuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik tidak secara jelas mengindikasi dimana batasan-batasan antara empat klasifikasi yang seharusnya. Dari sebuah aturan yang perspektif, batasan-batasan yang lebih jelas didefenisikan oleh Administrasi Makanan dan Obat di Amerika Serikat, Pusat untuk Penelitian dan Evaluasi Obat (27). Informasi ini diberi judul “Petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik” dan memberikan petunjuk untuk “Studi Pelepasan Bioavailabilitas dan Bioekivalensi secara In-vivo untuk Sediaan Padat Oral Pelepasan Segera Berdasarkan Sistem Klasifikasi Biofarmasetik.” Petunjuk itu menggambarkan syarat obat yang dipertimbangkan adalah kelarutan lebih tinggi, permeabilitas lebih tinggi, dan kecepatan waktu hancur. Dia juga menawarkan berbagai metode untuk menetapkan obat yang kelarutannya lebih tinggi atau permeabilitasnya. Pembatasan lebih lanjut ditempatkan pada suatu permintaan pelepasan uji bioekivalensi yang menyangkut syarat obat yang mempunyai jendela terapetik secara luas dan pengisi yang digunakan dalam dosis harus digunakan dalam sediaan obat padat oral pelepasan segera yang diperoleh dari Administrasi Obat dan Makanan.
Walaupun nama keempat kelompok Sistem Klasifikasi Biofarmasetik tidak begitu terindikasi, dosis merupakan informasi esensial yang penting yang digunakan dalam menentukan kalkulasi apakah suatu obat dapat dipertimbangkan sebagai obat yang mempunyai kelarutan lebih tinggi seperti yang digambarkan oleh petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik. Begitu penting mengikuti teori berdasarkan Sistem Klasifikasi Biofarmasetik dan teori disolusi yang dihadirkan dalam bab ini, area permukaan obat dalam teori Noyes-Whitney yaitu ketergantungan dosis. Untuk obat yang digambarkan kelarutannya lebih tinggi, dosis tertinggi harus dilarutkan dalam 250 ml air atau range pH 1-7,5. dosis yang signifikan telah ditunjukkan dengan membandingkan digoxin dan griseofulvin sebagai obat yang mempunyai sifat fisik berupa permeabilitas dan kelarutan, tetapi pertukaran yang sangat berkenaan dengan dosis (15). Hasilnya, dosis tinggi pada digoxin akan melarut dalam 250 ml air, sedangkan dosis tinggi pada griseofulvin tidak. Oleh karena itu, menurut petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik, digoxin akan digambarkan sebagai obat yang kelarutannya lebih tinggi dan griseofulvin tidak. Juga dinyatakan bahwa berdasarkan pelepasan Sistem Klasifikasi Biofarmasetik tidak tersedia untuk range terapetik obat yang sempit seperti digoxin (28).
Sistem Klasifikasi Biofarmasetik dikembangkan pada teori bahwa disolusi obat terkontrol dari kelarutan dan area permukaan obat digambarkan sebagai dosis dan ukuran partikel obat. Dalam penerimaan Sistem Klasifikasi Biofarmasetik, harus mengikuti tingkat teori disolusi obat yang memberikan kelarutan, dosis, ukuran partikel, volume disolusi, dan kondisi hidrodinamik. Kesimpulan ini juga bertujuan untuk memperagakan serbuk obat polidispersi yang diperkenalkan di sini. Petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik juga memperagakan untuk hanya menyediakan bentuk sediaan obat padat pelepasan segera. Sedemikian, dosis yang dapat hancur dalam beberapa menit bila dicelupkan ke dalam air untuk melepaskan partikel obat.
Teori disolusi mengizinkan formulator untuk mengkalkulasi tingkat disolusi obat dan membandingkan data disolusi eksperimental yang nyata. Ketidaksesuaian yang kemudian bisa diselidiki, yang berhubungan dengan efek disintegrasi, pembasah, ketidak-akuratan informasi ukuran partikel, atau teori yang salah. Disolusi dari dispersi yang baik, partikel obat terbasahi dalam ketidakhadiran formulasi yang dapat juga dilakukan untuk membandingkan dengan data disolusi dari bentuk sediaan padat dan memeriksa kembali tingkat teori disolusi. Ini memastikan bahwa formulator mengerti bagaimana dosis menunjukkan reaksi.
Pemberian asumsi bahwa tujuan dari bentuk sediaan obat pelepasan segera adalah untuk mempercepat disintegrasi pelepasan dispersi yang baik dan membasahi partikel obat, menetapkan sisa distribusi partikel obat yang merupakan tugas penting di bawah pengawasan formulator. Pertanyaan yang perlu untuk ditujukan adalah apakah ukuran partikel obat akan mempercepat kelarutan menurut petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik? Untuk menyelidiki pertanyaan ini, dua hipotesa obat yang dapat dibandingkan. Keduanya merupakan obat permeabilitas tinggi dengan tingkat absorpsi yang konstan secara bolak-balik yaitu 0,03 menit. Satu mempunyai dosis 250 mg dengan kelarutan 1 mg/ml, dan yang kedua mempunyai dosis 2,5 mg dengan kelarutan 0,01 mg/ml. Kedua obat akan dilarutkan dalam 250 ml air dan pada batas yang dipertimbangkan obat-obat kasus pertama : kelarutan tinggi, permeabilitas tinggi.
Gambar 6 membandingkan persen simulasi dosis yang diabsorbsi untuk kedua obat, masing-masing disimulasikan dengan ukuran partikel geometrik yaitu 5 dan 25 mikron. Artinya 5 mikron akan bersifat khas terhadap obat yang telah dipancarkan, sedangkan pada 25 mikron tidak akan menjadi ukuran partikel yang tidak biasa untuk obat yang digiling oleh penggilingan konvensional yang digunakan dalam industri farmasi. Pada puncak 2 kurva, mewakili dosis 250 mg pada kelarutan 1 mg/ml, yang menunjukkan perbedaan kecil dalam profil absorpsi untuk ukuran partikel 5 dan 25 mikron. Oleh karena itu, pada kurva ketiga dan keempat dari atas, profil absorpsi disimulasikan untuk ukuran partikel 25 mikron yang mewakili dosis 2,5 mg dengan kelarutan 0,01 mg/ml (kurva terendah) yang sangat berbeda dari ukuran partikel 5 mikron untuk dosis dan kelarutan yang sama. Kesimpulan tersebut menggambarkan dari teori tetap simulasi bahwa obat-obat dalam kelarutan tinggi sama, permeabilitas tinggi kelompok Sistem Klasifikasi Biofarmasetik tidak mempunyai sensitivitas yang sama untuk ukuran partikel obat berkenaan dengan disolusi. Haruslah dicatat bahwa dosis 2,5 mg, kelarutan 0,01 mg/ml obat yang disimulasikan menjadi sensitif untuk ukuran partikel mempunyai khasiat yang sama untuk digoxin yang absorpsinya telah ditunjukkan sensitivitasnya untuk ukuran partikel obat.

















Seperti yang disebutkan diawal, Petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik memerlukan penghancuran. Yang lebih terinci, 85 % atau lebih substansi obat harus hancur dalam waktu 30 menit menggunakan alat I atau II menurut USP dalam volume 900 ml atau kurang. Bila simulasi disebutkan lebih awal diulangi dalam 900 ml tidak dengan absorpsi, keduanya 5 dan 25 mikron dosis 250 mg dengan kelarutan 1 mg/ml akan bertemu pada 85% dengan waktu hancur cepat pada 5 mikron dosis 2,5 mg dengan kelarutan 0,01 mg/ml. Untuk 25 mikron dosis 2,5 mg, kelarutan 0,01 mg/ml, hanya 23% dosis yang disimulasikan untuk dihancurkan dalam waktu 30 menit. Kesimpulan praktis bahwa dosis 2,5 mg, kelarutan obat 0,01 mg/ml yang telah digiling sekitar 5 mikron untuk memenuhi persyaratan menurut Petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik. Oleh karena itu, kecepatan waktu hancur diperlukan dalam petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik yang menyediakan pemeriksaan keamanan yang lain dengan kekuatan spesifikasi ukuran partiker yang lebih sempit untuk obat-obat yang lebih sensitif terhadap pengaruh ukuran partikel pada disolusi.
Simulasi yang sama disebutkan lebih awal dapat diulangi menggunakan tingkat absorpsi konstan dari 0,001 timbal balik dengan 0,03 dalam beberapa menit, mengganti obat-obat dari kasus 1 ke kasus 3 : kelarutan tinggi---permeabilitas rendah, untuk memberikan yang lebih rendah dari keempat kurva yang ditunjukkan dalam gambar 6. Perbedaan yang mutlak antara simulasi kasus 3 adalah lebih kecil daripada simulasi kasus 1. Ini membawa pertanyaan mengapa obat-obat kasus 3 tidak dapat dipilih untuk pelepasan dengan poin tunggal spesifikasi disolusi 85% dalam 30 menit. Jika dosis kasus 3 waktu hancurnya cepat, tidak seperti variabilitas dalam absorpsi yang berkaitan dengan pengaruh formulasi. Poin ini juga telah dibuat dalam pertimbangan teori asli untuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik. Bagaimanapun, hanya obat-obat kasus 1 yang sekarang ini dapat dipilih untuk pelepasan berdasarkan Petunjuk Sistem Klasifikasi Biofarmasetik.

KESIMPULAN
Pendekatan model untuk disolusi simulasi, ADME menyediakan alat-alat untuk membantu ilmuwan farmasi mengerti proses-proses ini dan memandu memutuskan pemilihan dan pengembangan obat. Aplikasi dari teori disolusi dan absorpsi telah dikemukakan oleh Sistem Klasifikasi Biofarmasetik, yang memegang janji dalam mengurangi beban demonstrasi bioekivalensi dengan menggunakan poin tunggal dalam uji disolusi in vitro mewakili studi klinik in vivo untuk obat-obat kasus 1. Walaupun peraturan itu menguntungkan dibatasi untuk obat-obat kasus 1, aplikasi alat-alat model dalam industri farmasi mungkin mengurangi waktu dan biaya dalam mengembangkan obat-obat baru dari semua kelas yang masing-masing langkah penemuan ke proses pasar. Teori yang menyoroti pentingnya kelarutan, permeabilitas, dan farmakokinetik, dan membawa elemen-elemen ini bersama-sama dalam sebuah jalan yang mengikuti tujuan komprehensif, dari menghindari obat-obat yang kelihatannya sulit berkembang, untuk menentukan spesifikasi ukuran partikel obat untuk memastikan konsistensi disolusi, untuk meningkatkan daya larut atau formulasi sediaan terkontrol.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar